Oleh Ina Mahardhika
Bismillah...
"Kalau kita memulai langkah dengan rasa
takut, maka sebenarnya kita tidak pernah melangkah... " (A. H. Nayyar, ph.
D, Presiden Pakistan Peace Coalition).
Tidak sedikit manusia yang tidak memiliki
cita-cita, pesimis menjalani hidup, "pasrah" dalam menjalani dan
menerima hidup. Tak sedikit pula manusia yang banyak bermimpi, berkhayal dan
selalu berandai-andai tanpa usaha untuk mencapai apa yang diimpikannya.
Tidak semata-mata Allah SWT. Menciptakan
manusia tanpa tujuan dan harapan. Ketika manusia mulai lahir dan menghirup hawa
dunia, maka ketika itulah manusia harus siap menerima dan menunaikan amanah
Allah di muka bumi ini. Dalam hidup ada mega proyek yang harus dicapai oleh
manusia, teruslah mencoba untuk melangkah setahap demi setahap hingga akhirnya
Allah memberikan kemenangan dan keberkahan tujuan kita. Ia adalah cita-cita.
Cita-cita merupakan energi dan motivasi,
bukan obsesi tak terkendali. Ia merupakan perencanaan yang terorganisir dan
tersusun rapih bukan khayalan menggunung, meluap dalam lautan hidup dan hanya
sekedar buih. Ia adalah ruh yang dapat membangkitkan kemalasan menjadi
kreatifitas, sikap pesimis menjadi optimis, kelemahan menjadi kekuatan. Ia
adalah "motor" yang dapat mensinergiskan ikhtiar dan doa, ruh, jasad
dan akal untuk senantiasa bekerjasama dalam mewujudkan tujuan.
Jangan takut untuk memiliki cita-cita, karena
ia akan menggerakkan jasad untuk aktif dan enerjik, akal untuk kreatif dan
inovatif, jiwa dan ruh untuk senantiasa dekat pada Rabbnya. Cita-citalah yang
telah membuat seorang Imam Ahmad bertahan terhadap cambukan penguasa tirani
dalam mempertahankan keyakinannya bahwa al-Qur`an itu bukan makhluk, cita-cita
pula yang telah membuat seorang ibu melimpahkan kasih sayang terhadap anaknya,
senantiasa memenuhinya dengan doa dan cinta.
Jangan takut untuk bercita-cita meski dalam
keadaan sulit dan terhimpit, lemah dan tak berdaya. Tetap kuatkan dan bulatkan
tekad dalam diri untuk mencapai cita-cita besar, yang akan bermuara pada
samudera tawakkal. Adalah Rasulullah SAW. Dan kaum muslimin yang bersamanya,
tetap memiliki cita-cita besar dan agung meski beliau dalam keadaan lemah dan
sulit. Dalam peristiwa perang Khandaq, pasukan muslimin hanya berjumlah 3000
sedangkan pasukan kafir berjumlah 10. 000. Namun, keadaan itu tidak membuat
pasukan muslimin lemah dan putus asa, malah sebaliknya, kelemahan dan
kekurangan itu dapat menjadi kekuatan dan memicu kaum muslimin untuk berfikir
kreatif. Akhirnya ide cemerlang muncul dari seorang Salman al-Farisi tentang
strategi parit.
Bahkan disisi lain, ketika Rasulullah sedang
membuat parit, beliau mengungkapkan cita-cita besarnya, hal ini diceritakan
oleh al-Barra`. Ia Berkata, "Saat menggali parit, di beberapa tempat kami
terhalang oleh tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali dengan cangkul.
Kami melaporkan hal ini kepada Rasulullah SAW. Beliau datang, mengambil cangkul
dan bersabda, "Bismillah... ", kemudian menghantam tanah yang keras
itu dengan sekali hantaman. Beliau bersabda, "Allah Maha Besar, aku diberi
kunci-kunci Syam. Demi Allah aku benar-benar bisa melihat istana-istananya yang
bercat merah saat ini. " Lalu beliau menghantam untuk yang kedua kalinya
bagian tanah yang lain. Beliau bersabda lagi, "Allah Maha Besar, aku
diberi tanah Persi. Demi Allah saat ini pun aku bisa melihat istana Mada`in
yang bercat putih. " Kemudian beliau menghantam untuk yang ketiga kali dan
bersabda, "Bismillah... ", maka hancurlah tanah dan batu yang masih
menyisa. Kemudian beliau bersabda, "Allah Maha Besar, aku diberi
kunci-kunci Yaman. Demi Allah dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu
gerbang Shan`a.."
Meskipun cita-cita dan harapan Rasulullah
SAW. Belum terealisasi ketika beliau masih hidup, namun cita-cita yang
terungkapkan dan tervisualisasikan telah membakar semangat juang kaum muslimin
dan endingnya ialah kaum muslimin memenangkan perang Khandaq dan cita-cita
Rasulullah SAW. Terealisasi ketika masa kekhalifahan Umar bin Khatthab. Maha
Besar Allah.
Saudaraku... Bercita-citalah....
Bercita-citalah menjadi hamba Allah yang
ta`at dan "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya... "
Bercita-citalah menjadi hamba Allah yang
ikhlas, tawakkal dan sabar dalam menjalani setiap fase hidup....
Bercita-citalah menjadi seorang anak yang
sholih, orang tua yang bijak dan adil, suami atau isteri yang memiliki limpahan
kasih sayang pada setiap anggota keluarga, murid yang sholih dan penuh
prestasi, guru yang dapat menjadi teladan bagi anak didiknya.
Bercita-citalah memiliki keluarga yang penuh
kasih sayang, saling pengertian dan mengingatkan dalam kebaikan, dan senantiasa
ada dalam suasana Islami.
Bercita-citalah menjadi karyawan yang jujur
dan berprestasi, pempimpin yang adil dan penuh kasih terhadap bawahan, direktur
yang rendah hati, senantiasa tawadhu` dan kona`ah.
Bercita-citalah memiliki ketenangan jiwa,
keteguhan hati dan kepercayaan diri sehingga dapat dengan tulus mempercayai
orang lain dan mendapat kepercayaan yang baik.
Bercita-citalah dibebaskan hati ini dari
segala penyakit hati, iri, dengki, hasud, prasangka buruk, sombong, takabbur,
bangga pada diri sendiri...
Bercita-citalah memiliki pekerjaan yang
layak, hasil yang berkah serta menjadi seorang hartawan yang dermawan.
Bercita-citalah untuk masuk syurga dan
terhindar dari api neraka....
Dan.pada akhirnya bercita-citalah agar Allah
mengambilkan kita dalam keadaan yang baik. Khusnul khatimah...
"Kini jiwa ini merindukan syurga...
" (Umar bin Abdul `Aziz)
Setitik hikmah dari samudera hikmah.
Wasanawati et yahoo dot com
Comments
Post a Comment