Ya jakarta akan mengubah kita, cara berprilaku
yang di awali dengan cara berpikir. Uang receh yang sangat berguna di sini di
bandingkan dengan di pangkal pinang misalnya. Orang-orang mulai panik setiap
harinya, bahkan mulai dari dini hari menyiapkan segala sesuatunya. Terlihat
perfecsionis bukan ? bukan ! tapi karena alasan klise “THIS IS ABOUT LIFE”
entah lifestyle atau bukan yang jelas kepentingan ekonomi sudah terlibat satu
paket di dalamnya.
Dimana
intelektualis berada ? terlibat politik praktis mungkin atau sudah menjadi
bagian konspirasi hegemoni Gramsci ? beralih kepada cara merebut “sesuatunya”
ala Macchivialli ? di mana cinta ? ada yaitu di setiap lampu merah yang kamu
temui di jalan-jalan besar jakarta. Ibu lusuh mengendong anaknya, anak usia SD
yang tidak sekolah bekerja keras mengupas kulit kelapa di muara angke dengan
upah Rp 5000, 00 misalnya, ya itu cinta. Tapi bukankah Nabi pernah bilang
kepada Abu Bakkar “ satu hati tidak bisa menampung dua cinta” Nice ! Tauhid yaitu
cinta yang absolut hanya kepada satu Tuhan, hal yang sama dapat ditemukan dari
beberapa teori dasar tentang sufi. Orang-orang sufi itu mengalami ekstasi
karena kecintaannya yang terbatas kepada Yang Tidak Terbatas.
Tanah
luas tapi bahan pangan impor, yah semacam harga bawang yang membumbung naik
akhir-akhir ini, negara kepulauan dengan lautan yang luas tapi ikannya di curi
negara tetangga, yah semacam kemiskinan petani garam lah. Sebuah anomali.
Its
really they are struggling for their love ? i dont think so. Karena untuk makan
jawabnya, bukan cinta kan ? jadi percuma mereka bicara bersyukur dan ikhlas kan
?
Ini
kota yang egois ! modernitas kata Giddens ! CIAO ....
Comments
Post a Comment