oleh DH Devita
Being annoyed by others, mungkin itu
yang sebagian besar dialami oleh anak-anak remaja, atau mereka yang berusia
dewasa dini. Sepertinya orang-orang di sekitar yang lebih dewasa, terutama
mungkin orang tua dan anggota keluarga lain, selalu mengatakan hal-hal yang
‘mengganggu’ semangat keremajaan kita. Entah itu memprotes pilihan model
pakaian, kegiatan luar sekolah, teman-teman, sampai pilihan jalan hidup.
Mungkin tidak semua orang mengalami hal ini, tapi saya sendiri mengalaminya.
Memang sih, sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang orang-orang dewasa
itu katakan. Mungkin hanya caranya saja yang kurang pas atau waktu yang tidak
tepat. Tapi, dengan emosi seorang remaja atau usia tanggung seperti itu, mana
mungkin mau bersabar-sabar meladeni. Bagi mereka yang lost control, bisa jadi
akan menghadapi pertengkaran atau hubungan yang renggang dengan keluarga, oleh
sebab hanya masalah-masalah yang seharusnya bisa dibicarakan. Kalau ditanya
alasan mengapa bersikap demikian, just being annoyed dan tak ingin dicampuri,
mungkin itu jawaban gampangnya.
Suatu kali, saya mengalami kesulitan
dalam memilih jurusan ketika hendak lulus dari SMU. Saya menyadari betul minat
yang sejak kecil sudah muncul, tetapi dengan beragam aktivitas dan kurangnya
arahan, saya belum benar-benar menyadari bahwa saya menginginkan minat saya
itulah yang akan menjadi profesi saya kelak. Dan sayangnya, hal ini pun tak
disadari oleh keluarga saya. Dan akhirnya, saya mengalami sedikit perbedaan
pendapat dengan orang tua dalam memutuskan apa yang akan saya pilih. Pada
akhirnya, saya mengalah juga. Dan meninggalkan minat saya tersebut. Tapi setiap
kali salah satu anggota keluarga saya menyinggung urusan pekerjaan, masa depan,
dan pilihan hidup (dan tentu saja mereka menawarkan berbagai bidang yang
menurut mereka baik), saya menjadi super malas menanggapinya. Saya lebih suka
berkata, “Ya … ya, itu memang bagus.” Ketimbang menjelaskan apa yang
benar-benar saya mau. Suatu sikap yang salah, belakangan saya sadari. Atau bila
di lain kesempatan mereka melakukannya lagi, dan saya sedang dalam kondisi
‘tidak siap’ dan mood yang jelek, akhir dari percakapan itu akan menjadi tidak
enak. Dan saya benar-benar merasa terganggu dengan kejadian yang terus berulang
itu.
Pada masa-masa lepas dari bangku SMU
hingga masuk dunia perkuliahan, saya masih saja menghadapi situasi tersebut.
Dan lucunya, saya tidak benar-benar berusaha untuk memahami permasalahan, dan
mencari jalan keluar dalam berdialog yang baik. Supaya saya tidak lagi merasa
tidak nyaman ketika topik tersebut dibahas kembali. Supaya saya tidak terus
mengatakan, “Mereka benar-benar pengganggu terhebat.” Lagipula, apa enaknya
menjalani hubungan yang seperti demikian dengan orang-orang yang paling dekat
dengan diri kita? Bukankah masalah ini harusnya bisa menjadi pelajaran untuk
bersikap lebih dewasa? Seharusnya. Tapi saya sungguh lambat mempelajarinya dan
akhirnya mengubah sikap.
Daripada bersusah-susah meyakinkan apa
yang saya mau kepada keluarga, saya malah mengambil sikap: Ya sudahlah, ikuti
saja arusnya. Dan saya pun berusaha menyukai bidang yang saya pilih dalam
perkuliahan, walau sebenarnya itu saya pilih hanya karena mendekati minat saya
dalam dunia psikologi. Padahal cita-cita saya bukanlah menjadi seorang
psikolog. Saya hanya menyukai ilmu tersebut. Dan itu tidak cukup untuk menjadi
dasar semangat dalam menjalani fase kehidupan berikutnya. Begitulah, saya
berkubang dalam kesalahan berkali-kali. Dan setiap kali membicarakan masalah
profesi, dunia kerja, dan semacamnya, saya tetap merasa being annoyed by my own
family. Bayangkan saja! Betapa menyedihkannya perasaan itu.
Entah bagaimana akhirnya saya
memutuskan untuk memperbaiki semuanya. Harus! Bila saya tak ingin cita-cita
idaman saya itu terkubur dalam. Saya menyelesaikan kuliah dengan baik, dan menemukan
hal-hal positif yang Allah karuniakan pada saya dalam bidang kuliah yang saya
pilih. Dan saya pun kembali berusaha meraih cita-cita saya itu. Berusaha
mengenal dan terlibat dalam komunitas yang akan mengantarkan saya pada impian
itu, berusaha menghasilkan karya-karya yang lebih baik dengan target: harus
dipublikasikan di media massa, dan belajar dari siapa saja yang saya temui.
Tahun 2004, mungkin bisa dikatakan
bahwa itu tahun ‘kebangkitan’ diri saya. Saya ‘menemukan’ kembali gairah itu!
Cita-cita saya: ingin menjadi penulis. Dan itu yang saya tanam kuat-kuat dalam
benak saya sampai kapanpun. Saya lulus dari bangku kuliah, bekerja, dan
berusaha untuk tetap menulis dan menghasilkan karya yang lebih baik. Publikasi
karya saya di media, walau belum banyak, sedikitnya membuktikan hal itu. Dalam
hati, saya merasa senang sekali.
Still being annoyed? Hm, saya rasa itu
hanya salah satu ion negatif yang berterbangan di pikiran dan hati saya selama
ini. Saya merasa demikian sebab saya menyadari ketidakmampuan saya untuk
memberi penjelasan dengan cara yang bisa mereka terima. Atau pada saat itu,
saya belum benar-benar yakin dapat membuktikan bahwa cita-cita ini adalah
sebuah jalan hidup yang saya pilih.
Apapun pandangan orang tentang itu.
Membuat orang lain mengerti, sepertinya memang tidak bisa hanya melalui
kata-kata atau bahkan angan-angan saja.
Pada akhirnya, walau belum sepenuhnya
yakin dan mendukung, saya tahu bahwa mereka hanya ingin yang terbaik terjadi
pada diri saya. Bila mereka tidak mengerti apakah hal itu, maka kewajiban saya
untuk menjelaskan. Semua mereka katakan tentu tidak pernah bermaksud mencampuri
atau mengganggu hidup saya, melainkan karena mereka cinta. Ya. Cinta.
Bukankah dengan memandang suatu hal
dengan pandangan positif jauh lebih menyenangkan?
Comments
Post a Comment