Oleh Bayu
Gawtama
"Mas Say,
... "
Ini bukan
tentang "Mas Say... " panggilan salah seorang office boy sebuah
sinetron yang ditayangkan salah satu tv swasta nasional. Tokoh yang diperankan
dalam sinetron tersebut berkarakter pemalu, tidak banyak bicara, sopan dan
sedikit gampang digertak.
Tetapi "Mas
Say" yang ingin saya ceritakan adalah saudara kami di kantor yang mempunya
tugas kurang lebih mirip dengan tokoh di sinetron tersebut. Kami memanggilnya
"Mas Say" bukan karena profesinya dan kemudian dikaitkan dengan nama
tokoh di sinetron tersebut, melainkan ia bernama Saidi. Dan karena ia berasal
dari Majenang, Jawa Tengah, maka ada embel-embel "mas" di depan
namanya. Maka jadilah semua orang di kantor memanggilnya "Mas Say"
Entah kebetulan
atau tidak, Mas Say di kantor kami ini juga punya karakter yang hampir sama
dengan tokoh di sinetron itu. Paling tidak, sama-sama pendiam, tidak banyak
bicara, sopan santun, bedanya ya ia lebih lugas dalam berbicara.
Perbedaan
lainnya yang cukup mencolok yakni pada apa yang dikerjakannya sehari-hari. Ia
tidak hanya bertugas menyiapkan minum untuk seluruh karyawan, membuatkan kopi
atau teh manis, membersihkan kantor dan lain sebagainya. Mas Say juga punya
'tugas' rutin lainnya, yakni menjadi mu'adzin di musholla kami di lantai 4.
Memang tidak
pernah ada yang mendaulat dirinya menjadi muadzin. Hanya saja, di hari-hari
pertamanya bekerja, saat tiba waktu dzuhur kami 'dikagetkan' oleh suara adzan
yang sangat indah. Beberapa dari kami pun bertanya seru, "Siapa yang
adzan?"
Sejurus
kemudian, para karyawan pun bergegas memenuhi panggilan adzan dzuhur, tidak
sedikit yang menaruh penasaran untuk tahu siapa gerangan yang melantunkan suara
adzan tadi. Ternyata, suara indah itu berasal dari seorang Saidi.
Tidak cukup
sampai di adzan, lantaran kami sering bekerja hingga larut malam. Otomatis kami
sering shalat berjamaah maghrib dan isya di kantor. Selain adzan, Mas Say pun
sering kami daulat untuk memimpin shalat berjamaah. Subhanallah, bacaaan
ayat-ayatnya sangat indah, suaranya khas dan membuat kami betah berlama-lama berjamaah.
Siapa Mas Say?
Saya tertarik
dengan sosok saudara saya yang satu ini. Kemudian saya banyak menyempatkan diri
untuk berbincang dengannya. Akhirnya saya banyak tahu, ia lulusan salah satu
pesantren di Jawa Tengah. Ia datang ke Jakarta mengikuti kakaknya untuk
bekerja. Belum lama bekerja bersama kakaknya di sebuah rental komputer, ia pun
akhirnya singgah dan bekerja di kantor kami.
Usianya sekitar
25 tahun, lelaki santun yang rajin membaca al-Quran ini ternyata cukup bisa
berbahasa Arab. "Alhamdulillah, sedikit-sedikit bisa... " ujarnya
merendah.
Ada yang membuat
Mas Say selalu complaint terhadap saya, yakni lantaran saya tidak pernah
memintanya membuatkan kopi atau teh manis. Padahal hampir setiap hari saya
membuat teh manis. Setiap kali ia memergoki saya tengah membuat teh manis, ia
selalu saja kecewa dan berujar, "Kenapa bapak tidak pernah minta tolong
saya?"
Jawaban saya
cukup singkat, "Kalau masih bisa saya kerjakan sendiri, kenapa harus orang
lain?" Begitulah, dan sore ini saya kembali dipergokinya tengah membuat
teh manis di pantry. Lagi-lagi jawaban saya tidak berbeda, "Terima kasih
mas, tapi saya masih bisa membuatnya sendiri"
Kemudian, saya
dibuat terperangah dengan jawabannya atas kalimat saya barusan. "Pak, bagi
saya, pekerjaan saya adalah kehormatan saya. Bikin teh atau lainnya itu tugas
saya, jadi menjadi sebuah kehormatan bila saya bisa mengerjakannya... "
Ah, kalimat yang
indah terdengar dari seorang Mas Say.
Ada lagi yang
membuat saya terkagum. Saya yakin sekali ia tidak pernah sekolah atau kursus
komunikasi. Sebagai Communication GM di kantor, saya cukup kagum dengan caranya
berkomunikasi. Setidaknya ada satu hal yang selalu dipraktekkannya dalam
berkomunikasi kepada siapa pun, yakni ia senantiasa menggunakan 3 Magic Word;
Maaf, Mohon dan Terima Kasih (Sorry/excuse, Please, and Thanks).
Sungguh, saya
harus belajar banyak hal kepadanya. Entah pelajaran apa lagi yang akan saya
dapatkan dengan lebih banyak bergaul bersamanya. Semoga...
Comments
Post a Comment