Ontologi Teks



Analisis semiotika mecerminkan pengulangan pembacaan dalam memahami suatu tanda ke arah perubahan pola hubungan antarpenanda dan petanda, atau pengaturan ulang pola hubungan antara kata, benda dan makna. Pemahaman yang luas dan umum selama ini bahwa tanda itu terkait dengan eksistensi iderawi eksternal dan lebih condong ke arah tersebut secara langsung. Maka makna pun mendasarkan diri diri pada gambaran tanda dengan struktur khusus tersebut, bahkan secara tertulis berdasarkan kesesuaian antarpenanda dan petanda yang kemudian menghasilkan makna. Padahal ilmu bahasa modern bekerja di seputaran pemahaman ini, dengan suatu pernyataan : “tanda itu terbagi kedalam dua bagian ; penanda, yaitu rumus, gambaran bunyi, tulisan dan yang kedua adalah petanda, yang terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu unsur eksternal (objek) dan pemahaman (deskripsi akal budi). Dengan kata lain ada tiga unsur yang membentuk struktur kerja semantis (maknawi) yaitu rumus atau kata yang membentuk benda, pemahaman atau sesuatu yag menjadi interpretasi benda tersebut dan unsur eksternal (objek dari rumusan atau benda tersebut). Sebuah makna berdasarkan gambaran ini, tidak lahir hanya dengan salah satu usur tersebut, melainkan perpaduan dari ketiga unsur tersebut yang menyempurnakan penyandaran suatu benda kepada objeknya dengan bantuan unsur ketiga yakni pemahaman. Maksudnya adalah interpretasi objek dan menerjemahkannya dalam deskripsi akal budi, yang kadangkala disebut makna.[1]
Dari sini diketahui bahwa tanda itu tidaklah berkaitan dengan unsur eksternal secara langsung, akan tetapi lebih cenderung ke arah penanda yang lain, yaitu pemahaman atau deskripsi akal budi. Demikianlah deskripsi akal budi diantara tanda dan rujukannya yang merupaka suatu bentuk independen yang memiliki hakikat dan bagian eksistensialnya. Contohnya adalah ketika kita mendengar dan membaca kata insan , kita tidak akan membayangkan sesuatu yang ada diluar batin, dalam bahasa kita dan kepada sesuatu yang kita sebut sebagai insan secara langsung. Tapi apa yang kita bayangkan adalah deskripsi dan makna sepanjang yang kita pahami dan merupakan ungkapa interpretasi kita terhadap kata tersebut.[2]
Paparan diatas merupakan gambaran terbaru tentang tanda yang berasal dari pemikiran barat. Akan tetapi hal itu tidak terjadi dalam pemikiran arabb klasik yang tampak pengaruhnya saat ini dalam berbagai aspek dan idang studi linguistik.  Seorang ahli lingusitik arab, Yahya ibn Hamzah ketika berbicara tentang hubungan simbol dengan benda, menerangkan dengan jelas bahwa kata-kata itu pada hakikatnya menunjukkan makna-makna akal budi tanpa terkait eksistensi eksternal. Peryataan bahwa sesuatu benda itu memiliki eksistensi non fisik (akal budi) berarti bahwa deskripsi akal budi membentuk ukuran optimisme dan posisinya dalam wilayah makna. Untuk itu, meringkas deskripsi tersebut tidaklah mungkin berdasarkan rujukan yang dipergunakannya dan berdasarka tanda, baik dalam ungkapan bunyi atau tulisan.
Karena alasan-alasan tersebut, deskripsi akal budi tidak mungkin juga untuk menjauh dari ketiga bentuk lainnya. Suatu benda, pemahaman , ungkapan dan tulisan merupakan ukuran temporal, fleksibel dan struktural yang tidak harus menyesuaikan satu sama lain, akan tetapi tersusun satu sama lain dalam hubungan interpretatif, saling berinteraksi, berdialog, saling memberi referensi dan saling menggantikan posisi masing-masing. Kenyataannya adalah bahwa deskripsi akal budi yang merupakan terjemahan dari pemahaman terhadap suatu rujukan, pada saat yang sama telah membentuk tanda yang lain, menciptakan penanda yang menunjukkan eksistensi penanda lain, serta membuat rumusan yang memberikan referensi yang tiada hentinya muncul dalam akal budi sehingga kemudian menjadikan ungkapan yang ada tidak mampu untuk membongkar hakekat obyek. Maka kemudian yang terjadi adalah jika suatu persoalan tidak berkaitan dengan obyek yang menunjukkan suatu benda, tapi berkaitan dengan ungkapan otentik tentang aspek-aspek batini-eksternal dan sama sekali tidak berkaitan dengan aspek eksternal yang menunjukkan ahwa obyek tersebut merupakan sarana pemahaman yang memproduksi makna, sehingga di dalamnya, banyak kata yang mengacaukan pemikiran di balik selubung makna dan serangkaian pemahaman.
Apapun obyek dan referensi yang dipergunakan suatu tanda saat ini di pahami sebagai suatu tanda saat ini di pahami sebagai suatu wilayah makna yang sempit, atau kandungan makna yang tidak henti-hentinya memacarkan makna yang berbeda dengan dirinya sendiri. Hal ini adalah kemampuam semiotik, karena memiliki kemungkinan membutuhkan rangkaian-rangkaian tanda-tanda lain yang membuat makna berpola dan tiada berhenti pada beberapa petanda.
Dengan demikian, analisis semiotik mengandung tiga aspek penting, yaitu (1) celah yang terbuka antara simbol dan pemikiran, atau antara pembicaraan dan pandangan karena kita tidak selamanya membicarakan suatu yang tidak nampak atau kita menggunakan simbol yang tidak menunjukkan idetitas dirinya, tapi menunjukkan identitas yang lain. Celah ini yang membuat hal yang dibicarakan menjadi sesuatu yang serba mungkin dan tidak terbatas kemampuannya sampai suatu saat tertentu. (2) bahwa tidak mungkin ada suatu pemikiran tanpa suatu sistem bahasa dan sistem tanda. Untuk itu, kosakata menciptakan suatu dengan makna tertentu.(3) Bahwa tidak ada pemikiran tanpa gambaran-gambaran dan analogi-analogi atau tidak ada pemikiran tanpa aspek imajinasi simbolik.


[1] Ali Harb, Nalar Kritis Islam Kontemporer, IRCiSoD, Yogyakarta, 2012, hal 32
[2] Ibid, hal 33

Comments