Keislaman HMI dan Sistem Nilai




Seperti layaknya siklus organisasi, sebuah organisasi akan mengalami masa perkenalan organisasi, pengukuhan, kemajuan dan perkembangan, stagnan kemudian menurun. Organisasi semacam HMI sudah sangat terlalu tua bahkan, banyak organisasi yang lebih muda dari HMI sudah bubar terlebih dulu. Terlihat sejarah menyatakan cikal bakal organisasi ini terbentuk yaitu Persatuan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) bahkan sudah tidak exist lagi.

Sehingga HMI perlu merekontruksi ulang gerakannya atau dengan bahasa lain mendefinisikan ulang (redefinisi) hakekat dirinya sendiri. Dengan berbagai tantangan zaman, modernisasi pergerakan antar organisasi mahasiswa, HMI harus sadar betul dirinya adalah organisasi perkaderan dan dengannya HMI terus bereksistensi dan berjuang. 

Sistem perkaderan yang sistematis harus didukung oleh para instruktur atau perangkat  perkaderan lainnya dengan diliputi semangat keislamanan sebagaimana yang dicita-citakan dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI.
Dalam konteks inilah perlu kita bedakan antara prilaku dan sistem nilai yang suci dari pemahaman keislaman,karena jika berpegang teguh kepada konsep islam yang sejati, misalnya shalat yang didefinisikan dalam al quran mencegah perbuatan keji dan mungkar. Maka mereka yang shalat namun nyata-nyata melakukan korupsi dan hal-hal keji lainnya jelas tidak masuk dalam kategori orang yang melaksanakan shalat. Kita juga tidak dapat menafikan efek pencitraan terhadap islam sedikit menjadi tercoreng oleh prilaku buruk orang-orang yang sudah dilabelkan menjadi bagian komunitas islam akhir-akhir ini yang menonjol dipermukaaan dan tidak sedikit yang dengan nalar induktif yang simplistik melakukan generalisasi seolah-olah yang salah adalah latar belakang labelnya.

Untuk itu, soal prilaku ini juga patut kita perhatikan bersama, bahwa sebagai seorang muslim ataupun kader HMI kita wajib bertanggung jawab untuk menjaga citra positif islam ataupun HMI di masyarakat, karena bagaimanapun ketika kita sudah menjadi kader HMI maka diantara diri kita dan HMI ibarat dua sisi mata uang yang sulit untuk dipisahkan. Dalam filsafat moral dijelaskan bahwa turuan dari sistem nilai hingga prilaku itu minimal melewati dua tingkatan yaitu norms dan mental model. Norms biasanya berupa ketentuan-ketentuan regulatif yang mengatur upaya-upaya pecapaian tujuan, value/nilai tidak memberikan pengaturan institusional yang persis, sedangkan norma bersifat lebih spesifik ketimbang nilai. Norma bisa bersifat formal,  seperti ditemukandalam peraturan hukum, bisa juga informal, namun nilai dan norma saja belum menentukan sikap bentuk orgaisasi tindakan kader, seperti siapa yang menjadi pelaksana upaya pencapaian tujuan ini, bagaimana tindakan-tindakan para pelaksana ini di strukturkan dalam peran organisasi Dengan begitu perlunya melakukan mental mode sebagai upaya untuk menyederhanakan realitas yang kadang membingungkan dan sering dianggap sebagai sesuatu yang saling terkait seperti bagaimana proses modelling atau peneladanan dari senior ke junior.

 
Markas HMI Cabang Se Jakarta , Jl. Cilosari no 17, Cikini Jakarta Pusat

Selama ini nilai-nilai HMI kadang seolah telah menjadi di jumudkan oleh sekadar teks yag mati dan kehilangan konteks untuk dimplementasikan dan berkutat pada perdebatan model. Nilai Dasar Perjuangan (NDP) perubahan yang dilakukan terhadap NDP bisa diprediksi tidak akan begitu berdampak sihnifikan pada kader apabila NDP hanya sebagai doktrin namun tidak mampu diterjemahakan dan dimplementasikan pada ranah kegiatan dan interaksi organisasi.

NDP telah menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip kebenaran universal dijadikan sebagai poros sistem keyakinan kader. Kebenaran universal tak terbatas ruang dan waktu, atau biasa pula disebut teoritical wisdom. Tapi pada saat bersamaan, pergumulan dan dinamika sistem keyakinan pada wilayah praksis meminta terus untuk dilakukan kontekstualisasi, disini, hari ini, zaman ini, budaya ini sehingga dibutuhkan perangkat nilai sistem yang kuat.

Comments